Sabtu, 14 Juli 2018

Aku Bisa Jatuh Cinta Kepada Siapa Saja

Hasil gambar untuk simbol cinta opensource


Aku bisa jatuh cinta kepada siapa saja
Kepada awan yang meneduhkan
Kepada matahari yang selalu berseri di waktu pagi
Kepada bulan dan bintang yang kerap bersembunyi di langit malam

Aku bisa jatuh cinta kepada siapa saja
Kepada hujan yang menenggelamkan
Kepada badai yang membantai
Kepada ombak yang menabrak

Aku bisa jatuh cinta kepada siapa saja
Kepadamu,
atau kepada setangkai bunga layu
di samping pangkuanmu


HeLP (28 Februari 2018)

Minggu, 18 Maret 2018

Tentang Batas

Foto: @GSP, 16 Maret 2018


Senjakah yang membatasi persahabatan siang dan malam?
Saat siang hari, trotoar jalan menjadi tempat parkir
Saat malam hari, trotoar jalan dipaksa menjelma menjadi lahan pedagang kaki lima
Jadi, di mana letak batas antara kendaraan berlalu lalang dan pejalan kaki yang kian malang?

Pantai adalah ujung pulau yang selalu berpagut dengan laut
Nelayan berangkat melaut di malam hari, pulang sebelum pagi
Apa benar pagi yang membuatnya harus kembali?
Atau karena pantai, batas rindu kepada anak istri?

Dosakah jika aku menertawai tangismu?
Asingkah aku jika menangisi tawamu?
Tertawa dengan menelanjangi wanita jalang
Menangis dengan menelanjangi istri orang

Batas ...
Aku tak akan pernah mengenal itu
Sebab, pelangi hanya dipercaya memiliki 7 warna
Dan tak ada yang peduli, ada apa di antara merah dan jingga

-HeLP-
17/3/2018



Rabu, 22 November 2017

Durasi Generasi Penerus di Zaman Milenial


Oleh: Hendra Laksana Putra
Hasil gambar untuk time
sumber gambar: https://seealternativeswellness.com/have-you-ever-considered-your-relationship-to-time-and-space/

Zaman serupa pesan singkat
Sangat cepat kadaluarsa
Terbaca hanya olehnya yang bersabar menghayati
Mendalami setiap fakta dan opini
Yang kabur di balik jendela mengembun

Aku tak hidup di medan penjajahan 72 tahun lalu
Aku tak hidup di tengah mencekamnya 32 tahun orde baru
Aku juga tak hadir ketika reformasi disuarakan sebagai pembaharu
Tapi aku mulai membuka mata hari ini
Dan langit di negeriku tengah berselimut hoax adu domba di kanan kiri

Jika hari ini, hanya ada pistol di tangan kananku
dan belati di tangan kiriku,
Lupakan! Esok dan lusa hanya menyisakan pahit kebodohan

Tetapi …

Jika hari ini, ada lukisan strategi di otak kananku
dan perhitungan konsekuensi di otak kiriku,
Jemput aku di perbatasan, aku akan pulang




Sleman, 9-11 November 2017

Selasa, 04 April 2017

- - Pinta - -

oleh: Hendra Laksana Putra

Ketika sebuah cerita ku sampaikan kepadamu,
apakah kau dengar?
Telingamu bukan satu-satunya pendengaran
Aku harap kau mendengar dengan hatimu
Adinda,
Sepi ini sudah terlalu lama
Bukan karena kau tak ada
Tapi kenapa hanya raga yang kau persilahkan untuk kudekap
Tak bolehkah lebih?
Jika memang batas-batas yang telah kau ceritakan lewat tatap matamu,
tak mengartikan restu untukku
Tak apa kau lekas berucap selamat tinggal padaku
Aku hanya tak ingin diantara kita ada selat semu
Yang mengusirku jika tinggal dan merindukanku jika pulang
Adinda,
Tak mengapa ceritamu tetap terbiar
Aku pun tak akan sanggup menghapusnya
Aku hanya ingin melihat bahagiamu
Jika sudah,
aku akan pergi dan mengais kebahagian yang baru

Selasa, 21 Maret 2017

[Kembali]

Foto Hendra Laksana Putra.
sumber: ........

Bukan waktu yang mendatangkan kepergian
Bukan usia yang menghidupkan kematian
Bukan cinta yang memanggil kebodohan
Bukan pula kamu, yang pernah ku anggap penyayat kesetiaan
Cerita pendek yang ku tulis bukan karena ku ingin
Hanya kata-kataku telah habis oleh angin
Diterpa oleh cidera bertubi dari sosok yang dulu teramat bening
Yang mengukir bulan-bulan malam yang hening
Aku tak tahu apakah cerita dari puisi ini benar-benar berakhir, ketika kau katakan,"Aku hanya sejenak kembali."


@KOS, 19 Maret 2017

Kamis, 09 Maret 2017

Ketika Ku Dengar Cerita Seorang Sahabat

by: Hendra Laksana Putra


Hasil gambar untuk sahabat
sumber gambar: www.rajakata.net


Kita bertemu lagi
Di hari yang tak pernah tertulis rencana
Apa kabar mimpimu hari ini?
Masihkah? Atau mungkin kan bertahan hingga lusa

Kamis, 01 Desember 2016

Pengaduan, Akhir 2016

by : Hendra Laksana Putra

sumber gambar : remajakita.indonesiaz.com

Setelah ini, apa?
Setelah dari sini, ke mana?
Napas terakhirku tak pernah menulis kata. Kapan tiba?
Begitu pula senandung serangga musim kemarau

Tanah lahirku pecah, beranakan amarah. Menyelingkuhi amanah
Walau amarah adalah jubah kebesaran Tuhan. Mereka ikut menyandang
Tuhan ... maafkan ...
Semoga bara di selendang ibu pertiwi lekas padam

Rabu, 09 November 2016

SURGAKAH?


Hasil gambar untuk air
sumber gambar : mobile.fourlook.com

by : Hendra Laksana Putra

Apa kabar surga hari ini?
Mungkin saya tidak pernah tahu.
Tentang kisah – kisah air susu telaga
Pondasi dan tiang – tiang emas berkilau

Apa kabar surga hari ini?
Orang – orang ingin ke sana. Tanpa tes
Hanya ingin kenikmatan-Nya
Atau ingin restu-Nya

Rabu, 28 September 2016

Hitam Putih

Sumber gambar : www.icone-png.com

Seandainya detik waktu bisa ku putar kembali, ingin ku ulang setiap bahagia. Dan hidup 1000 tahun lagi. Kan kusandingkan dengan setiap kesedihan, agar aku tak berlari menuju kepahitan yang abadi.

Seperti pelangi yg terlukis hampir bersamaan dengan badai. Seperti purnama yg selalu di selimuti kegelapan. Seperti seorang ibu yg melahirkan kebahagiaan dengan kesakitan, atau bahkan kematian. Seperti kebencian kepada masa indah yg pernah berlalu. Seperti aku yg ingin memilikimu sekali lagi


Minggu, 18 September 2016

Cinta, 2 Sisi

Cinta adalah keraguan, sekaligus kepastian
Cinta adalah kebohongan, sekaligus kejujuran
Cinta adalah mimpi, sekaligus kenyataan
Cinta adalah kesabaran, tetapi tak boleh diam

Cinta adalah masa lalu, sekaligus waktu yg akan berlalu
Cinta adalah perjalanan, sekaligus pemberhentian
Cinta adalah kebahagiaan, sekaligus kesedihan
Cinta adalah memberi, dan terus memberi

Cinta adalah kebijaksanaan yg membuat langit terguncang
Membuat bumi dan seisinya bimbang
Tentang hitam dan putih yg harus dipijak untuk langkah berikutnya
Semua itu yang membuatku takut sampai sekarang, untuk mengecup kehidupanmu dan melayarkan bahtera
Sok2an wkwkwkwkwk :D
__________________harusnya ada orang disebelah sini ||
_____________________________________________________ ||
Hendra Laksana Putra di Hutan Pinus, Imogiri, Yogyakarta.

Foto Hendra Laksana Putra.

Kamis, 08 September 2016

Jika Sampah

by : Hendra Laksana Putra
Sumber gambar : forum.detik.com


Berapa banyak kata, kalimat, dan ejaan yang tertanam di otak mungilmu
Untuk apa semua itu?
Seperti kantong plastik yang membungkus belanjaan. Dipakai, lalu menjamur

Tebal KBBI mungkin tak cukup untuk mengartikan
Semua yang ku ingat untuk apa?
Semua yang ku sampaikan untuk siapa?

Tidak ada batas dimana bunyi lonceng akan berhenti
Begitu pula puisi
Walau semuanya sampah, tetap saja aku merindunya



@Perpustakaan, 8 September 2016

Minggu, 28 Agustus 2016

Hanya Tiba - Tiba

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : okepuisi.blogspot.co.id

Tak pernah aku tersadar
Bagaikan langkah kaki semut hitam di atas batu hitam saat malam
Tiba – tiba kau datang, bersama senyum mengundang
Aku, untuk lekas memberi balas

Tak pernah aku tersadar
Bagaikan langkah kaki semut hitam di atas batu hitam saat malam
Tiba – tiba kau pergi, bersama senyum menjauhi
Aku, untuk cinta di sampingmu



@Mustek, 28 Agustus 2016

Selasa, 16 Agustus 2016

Berapa Lama Lagi . . . .

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : kutipanmutiara.blogspot.com


Berapa lama lagi matahari menyapaku di saat pagi
Berapa lama lagi bulan membagi indera di larut malam
Berapa lama lagi bintang menjadi lampion yang berkelip

Berapa lama lagi detik memburu setiap langkah
Berapa lama lagi ketujuh hari silih berganti
Berapa lama lagi terompet tahun baru  mampu meneriaki semesta yang menua

Berapa lama lagi jantung ini berdetak
Berapa lama lagi nafas ini menghidupi
Berapa lama lagi darah ini mengalir

Berapa lama lagi tegak kakiku menumpu
Berapa lama lagi tegar hatiku mengharap
Berapa lama lagi lelahku kan tiba

Menunggumu di tempat kau pergi
Menunggumu di tempat janjimu tuk kembali
Berapa lama lagi  . . . .


@Perpustakaan, 16 Agustus 2016

Kamis, 11 Agustus 2016

Semakin Sakit

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : syiartech.wordpress.com


Dia pendiam
Tak pernah mengusik apapun dan siapapun
Walaupun digoncang seribu gerhana. Tetap saja hening
Aku yang ramai walaupun tak berdaya
Kalian yang berteriak walaupun tak menatap
Kita yang menggenggam bumi dengan kerapuhan

Siapa dia?
Tak ada yang mengenalnya, tapi semua orang menginjaknya
Mencukur rambut hijaunya, penebar aroma kehidupan
Melubangi kulitnya dengan bor dan paku raksasa
Mencakar dan mencongkel jantung – jantung berkilauan
Bahkan raut mukanya digunjing

Dia sakit saat ini. Tidak
Dia disiksa!
Dia akan semakin sakit sampai semua tulang pendosa membungkusnya



@Mustek, 11 Agustus 2016

Senin, 08 Agustus 2016

Akulah Pilihan

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : mega-octaviany.blogspot.com



Sepanjang apapun perjalanan, akan selalu ku temui persimpangan
Kadang aku harus berjalan lurus atau berlari membunuh waktu
Kadang juga belok ke kiri atau ke kanan
Dan terkadang harus berhenti atau bahkan kembali

Jika ada yang melihatku, mereka kan bertanya, “Mengapa?”
Karena . . . .
Akulah hidup dan akulah pejalan kaki itu
Akulah pemilih dan akulah pilihan



@Perpustakaan, 8 Agustus 2016

Malam Hati

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : silient-action.blogspot.com



Duniaku hanya berisi jurang

Lautan dengan palung yang sangat dalam

Siang yang terlewat sekejap

Tepat ketika ku pejamkan kelopak di tepian bola – bola

Yang memelototi seluruh isi yang sesungguhnya tak ada

Hanya ada malam. Yang sering datang, yang sering pulang



@Perpustakaan, 8 Agustus 2016

Minggu, 07 Agustus 2016

Cerita Pelangi

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : pixabay.com



Merah kuning hijau
Adalah warna pelangi ketika aku masih duduk di bangku Taman Kanak – Kanak
Seperti lagunya yang sederhana, warna itu sudah sangat indah

Mejikuhibiniu
Adalah istilah baru yang ku tahu tentang pelangi saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar
Tidak ada lagunya memang, selain ku dengar dari pelantun tembang yang mengatakan bahwa indah pelangi seindah cinta dan suasana hati

Saat beranjak dewasa aku diberi tahu tentang pelangi yang tidak sederhana lagi
Tak seperti dulu, tapi jauh lebih indah
Dari awal yang sederhana, dengan surya yang berteman dengan melodi rintik air langit
Ada pelangi
Merah dan jingga dan diantara mereka ada sudut yang pernah terabaikan hanya karena keterbatasan
Mungkin rambut di atas kepala ini mengerti. Tak pernah ada yang peduli, berapakah aku?


Dan sekarang aku pun bertanya, salahkah kita semua?

Sabtu, 06 Agustus 2016

R.I.N.D.U

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : www.satubahasa.com



Aku tidak tahu apa itu?
Tapi aku merasakan ada yang hilang, tapi bukan tentang ketidaksyukuran
Aku damai,
Tapi bukan kedamaian yang menjadi kehendak semesta
Jika jagat raya pun mendapati kekosongan, mungkin juga rinduku

Apakah sebenarnya aku tahu?
Aku ada bersama kekosongan itu
Haruskah ku penuhi dengan mimpi – mimpi masa kecil
Atau cerita – cerita tidur dari bunda
Bagaimana dengan rindu?

Siapa dia? Aku tidak mengenalnya. Belumkah?
Rindukah kekosongan itu?
Dan bagaimana aku bisa memulai untuk mendekapnya . . . .





@Mustek, 6 Agustus 2016

Styrofoam

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : www.decoist.com



Saat masih kecil aku akan terbang kemanapun nafas langit berhembus
Saat aku terdiam, aku harus bisa menahan dorongan dan tarikan
Saat aku berjalan, aku akan sempoyongan sambil sedikit melompat
Saat aku berlari, aku benar – benar bersama udara

Ketika bersamamu dan kau lembutkan sentuhanmu
Aku akan terlepas dari genggamanmu yang tak erat lagi
Ketika bersamamu dan kau keraskan jemarimu
Aku akan patah, berserakan di jalan dan berhamburan di angkasa


@Mustek, 6 Agustus 2016

Senin, 01 Agustus 2016

Akulah Duri . . . .

by : Hendra Laksana Putra
sumber gambar : kidnesia.com


Adakah penghapus kata yang telah terucap?

Apakah pengertian bisa mema’afkan segalanya?

Apakah harus ada yang disalahkan ketika hati menangis?



Tak akan mekar mawar merah tanpa duri di tangkainya

Akulah duri . . . .




@Perpustakaan Teknik, 1 Agustus 2016
 

Look & See

TERIMAKASIH

Selamat menikmati. Jangan ragu memberi komentar, karena dari cermin orang lain kita melihat hal yang selama ini tersembunyi menghalangi kita berdiri.

About

It's about US
semua tulisan di blog ini merupakan karya saya sendiri, Hendra Laksana Putra. Jika ada yang bukan dari saya, sebisa mungkin saya sertakan sumbernya. Mohon untuk di koreksi yaaaa . . . . Terimakasih. Don't forget to be happy . . . .