Diambil di: TN-4, 30 Mei 2017
83 menit. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan ujian
akhir semester hari ini. Di salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil
jika ingin mencicil SKS untuk lulus. Karena terlalu asyik mengerjakan keempat
soal yang telah disediakan, tak ada satupun yang saya perhatikan selain bagaimana
menjawab soal-soal tersebut tepat sebelum pukul 09.23.
Akhirnya saya bisa memenuhi setiap jawaban 5 menit
sebelum waktu akhir yang ditentukan. Memenuhi bukan berarti selesai dengan baik, mungkin hanya sekedar penuh saja.
Dan ternyata ....
Pada 5 menit terakhir, ada
satu kalimat menarik di bagian bawah lembar soal. Menurut saya jauh lebih
menarik dari pada soal-soal yang ada. Dan saya baru saja tahu setelah selesai
mengerjakan. Harusnya saya mengetahuinya ketika akan mengerjakan soal agar
lebih semangat. Tapi ... sudahlah.
“Berusahalah untuk sukses dalam hidup yang hanya sekali
dan terbatas ini.”
Begitulah isi tulisan itu.
Sebenarnya ada sebuah kalimat lain yang juga menarik. Tetapi sering sekali
diucapkan oleh dosennya, dan saya hanya tertawa saja. Beliau selalu mengatakan
bahwa, untuk mengerjakan sesuatu harus dengan gembira. Dan benar, ini sangat
penting untuk membangunkan rasa yang indah ketika mengerjakan sesuatu. Apapun itu.
Sudah berlalu sekitar 4 jam
13 menit sejak saya selesai melaksanakan ujian hari ini sampai saya membuat
tulisan ini. Dan waktu diantaranya, saya hanya memikirkan kata-kata itu.
Berusahalah untuk sukses ....
Ketika kalimat itu diletakkan
di atas kertas ujian, kita pasti akan berpikir satu hal. Ya, berusahalah semaksimal
mungkin agar lulus di mata kuliah ini sehingga tak perlu perbaikan nilai
dikemudian hari. Ingat! Yang terpikir adalah perbaikan nilai, bukan pemahaman. Apalagi
kehidupan.
Tetapi saya malah tak
berpikir ke sana. Lagi pula sudah terlambat untuk berpikir ke sana. Ujian sudah
selesai. Lebih dari itu, yang saya pikirkan justru tentang dosennya dan
hubungan kalimat ini dengan keadaan selepas menjadi sarjana nanti. Walaupun masih
kurang 1 tahunan lagi, antara 1,1 sampai 1,9 tahun.
Jarang sekali ada dosen yang
memberikan sentuhan-sentuhan seperti ini. Jari di tangan kanan saja mungkin
masih terlalu banyak untuk menghitung mereka-mereka yang unik. Kalimat yang
tertulis itu mungkin biasa saja. Tetapi ketika hampir semua dosen memiliki
sikap dan sifat yang sama, tentu ini menjadi ajaib, terkhusus untuk saya
sendiri. Saya selalu mengidolakan dosen-dosen yang unik, beliau salah satunya.
***
“Berusahalah untuk sukses dalam hidup yang hanya sekali
dan terbatas ini.”
Menurut saya, di kalimat itu terdapat
2 kata kunci yang cukup menarik untuk diceritakan lebih lanjut. Yaitu “berusaha”
dan “batas”. Untuk saat ini, sukses bukan kata kunci. Bagi saya dia masih terlalu
absurd, tak punya kejelasan maksud. Tapi kenapa banyak orang yang ingin
memilikinya? Dan kalau ditanya apa itu sukses, hanya ada satu nada jawaban yaitu
banyak uang.
Berusaha ...
Setiap manusia, siapapun dia,
bagaimanapun keadaannya, pasti bisa berusaha. Dan harus bisa, karena Tuhan yang
memerintahkannya.
“Pepatah bilang, ada 1000
jalan menuju Roma. Bagiku bukan hanya 1000, tetapi jutaan. Bahkan miliaran
jalan akan selalu terbuka. Jalan buntu hanya untuk orang-orang yang pura-pura
malu. Pura-pura malu kepada Tuhan untuk berdoa, pura-pura malu kepada raga
untuk berusaha, dan pura-pura malu kepada keadaan untuk men-syukuri
kesempatan.”
Kata-kata itu pernah saya ambil
dari tulisan saya beberapa bulan yang lalu. Ya, jalan sudah ada, tinggal
bagaimana usahanya. Jangan memikirkan takdir Tuhan nanti seperti apa, yang
penting usaha. Karena 100% yang bisa dilakukan oleh manusia adalah berusaha. Dan
karena 100% pula Tuhan berkuasa atas segalanya, maka silahkan meminta segalanya
hanya kepada-Nya. Dan yang tidak kalah penting adalah menetapkan tujuan. Tujuan
yang mutlak dan tidak mudah goyah, agar usahanya selalu berjalan di jalan yang
semestinya. Kalaupun berbelok hanya selidi, kalaupun tersesat lekas kembali.
Batas ...
Disinilah kita harus
melepaskan semua keinginan kita. Batas bukan tentang siapa diri kita, tetapi
tentang hubungan antara kita dan selain kita. Usia adalah batas, teman adalah
batas, komunikasi adalah batas, dan apapun adalah batas. Bahkan langkah kaki
kita adalah batas. Dan semua itu tercipta dengan sendirinya sebagai konsekuensi
bahwa kita adalah manusia, bukan Tuhan.
“Karena usia kita terbatas, maka sekarang adalah waktu
yang paling tepat untuk berusaha. Bukan esok atau nanti.
Karena teman adalah batas, maka membangun dan menjaga hubungan
baik adalah cara yang paling tepat untuk bisa memanipulasi batas itu.
Karena komunikasi adalah batas, maka kita perlu untuk
selalu berdoa kepada Tuhan untuk merendahkan diri yang sudah rendah ini, bahwa
kita selalu membutuhkan-Nya. Sehingga komunikasi bukan lagi batas, tetapi
kekayaan tak terbatas karena dijalin dengan Sang Pemilik Semesta.
Karena langkah kaki kita adalah batas, maka segeralah
sukses.”
Hendra
Laksana Putra
Fakultas
Teknik UGM, 30 Mei 2017

0 komentar:
Posting Komentar