Jumat, 11 Agustus 2017

Keadilan?


Foto Hendra Laksana Putra.




Sila ke-5 negara ini, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ketika di kelas pancasila 1 tahun yang lalu, seorang dosen filsafat menyampaikan bahwa setiap sila adalah proses. Awalnya saya berpikir keadilan adalah sebuah doktrin bernegara yang harus dicapai. Tapi ... di dalam benak saya sampai hari ini, masih lebih sesuai jika setiap sila adalah proses. Termasuk sila ke-5.

Ketika keadilan adalah sebuah hasil, maka bagaimana mungkin hal itu akan berhasil? Padahal untuk setiap pasang mata, makna keadilan berbeda-beda. Tetapi jika keadilan diposisikan sebagai sebuah proses dalam perbaikan setiap manusia guna menuju cita-cita bangsa, maka berkeadilan dari waktu kewaktu adalah kunci utama.

Selasa, 30 Mei 2017

UAS Hari Ini ...


Diambil di: TN-4, 30 Mei 2017

83 menit. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan ujian akhir semester hari ini. Di salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil jika ingin mencicil SKS untuk lulus. Karena terlalu asyik mengerjakan keempat soal yang telah disediakan, tak ada satupun yang saya perhatikan selain bagaimana menjawab soal-soal tersebut tepat sebelum pukul 09.23.
Akhirnya saya bisa memenuhi setiap jawaban 5 menit sebelum waktu akhir yang ditentukan. Memenuhi bukan berarti selesai dengan baik, mungkin hanya sekedar penuh saja.
Dan ternyata ....
Pada 5 menit terakhir, ada satu kalimat menarik di bagian bawah lembar soal. Menurut saya jauh lebih menarik dari pada soal-soal yang ada. Dan saya baru saja tahu setelah selesai mengerjakan. Harusnya saya mengetahuinya ketika akan mengerjakan soal agar lebih semangat. Tapi ... sudahlah.
“Berusahalah untuk sukses dalam hidup yang hanya sekali dan terbatas ini.”

Selasa, 04 April 2017

- - Pinta - -

oleh: Hendra Laksana Putra

Ketika sebuah cerita ku sampaikan kepadamu,
apakah kau dengar?
Telingamu bukan satu-satunya pendengaran
Aku harap kau mendengar dengan hatimu
Adinda,
Sepi ini sudah terlalu lama
Bukan karena kau tak ada
Tapi kenapa hanya raga yang kau persilahkan untuk kudekap
Tak bolehkah lebih?
Jika memang batas-batas yang telah kau ceritakan lewat tatap matamu,
tak mengartikan restu untukku
Tak apa kau lekas berucap selamat tinggal padaku
Aku hanya tak ingin diantara kita ada selat semu
Yang mengusirku jika tinggal dan merindukanku jika pulang
Adinda,
Tak mengapa ceritamu tetap terbiar
Aku pun tak akan sanggup menghapusnya
Aku hanya ingin melihat bahagiamu
Jika sudah,
aku akan pergi dan mengais kebahagian yang baru

Mujahid NKRI itu Beda

ESAI   : Darah Mujahid dan NKRI
Judul  : Mujahid NKRI itu Beda
 oleh: Hendra Laksana Putra
Hasil gambar untuk mujahid kartun
sumber gambar: google.co.id
Pelangi tidak hanya memiliki tujuh warna. Tetapi ada banyak warna yang berada di antara warna – warna yang tidak bisa dijangkau oleh keterbatasan mata manusia. Dan kita sering mengatakan pelangi memiliki tujuh warna. Kita sering mengatakan hanya tentang apa yang kita ketahui, bukan yang sebenarnya terjadi. Belum lagi jika kita mendekati keberadaan pelangi. Kita akan semakin merasa dibodohi. Atau lebih tepatnya akan semakin banyak hal yang ternyata tidak kita ketahui. Tetapi kita sudah terlanjur mengatakan banyak opini yang dilatarbelakangi pengagungan atas kebenaran di dalam diri. Termasuk pernyataan saya sendiri di paragraf pertama ini.
Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat besar. Jumlah penduduk Indonesia di tahun terakhir ini lebih dari 255 juta jiwa, bisa dikatakan cukup rukun dengan kemajemukannya dalam Bhineka Tunggal Ika. Dan yang membuat Indonesia menjadi sebuah negara yang sangat besar adalah karena sejarah kemerdekaannya. Sejarah yang dilukis dengan darah dan keringat perjuangan seluruh bangsa untuk memperoleh kemerdekaan sejati.

Selasa, 21 Maret 2017

[Kembali]

Foto Hendra Laksana Putra.
sumber: ........

Bukan waktu yang mendatangkan kepergian
Bukan usia yang menghidupkan kematian
Bukan cinta yang memanggil kebodohan
Bukan pula kamu, yang pernah ku anggap penyayat kesetiaan
Cerita pendek yang ku tulis bukan karena ku ingin
Hanya kata-kataku telah habis oleh angin
Diterpa oleh cidera bertubi dari sosok yang dulu teramat bening
Yang mengukir bulan-bulan malam yang hening
Aku tak tahu apakah cerita dari puisi ini benar-benar berakhir, ketika kau katakan,"Aku hanya sejenak kembali."


@KOS, 19 Maret 2017

Kamis, 09 Maret 2017

Ketika Ku Dengar Cerita Seorang Sahabat

by: Hendra Laksana Putra


Hasil gambar untuk sahabat
sumber gambar: www.rajakata.net


Kita bertemu lagi
Di hari yang tak pernah tertulis rencana
Apa kabar mimpimu hari ini?
Masihkah? Atau mungkin kan bertahan hingga lusa

Kamis, 01 Desember 2016

Pengaduan, Akhir 2016

by : Hendra Laksana Putra

sumber gambar : remajakita.indonesiaz.com

Setelah ini, apa?
Setelah dari sini, ke mana?
Napas terakhirku tak pernah menulis kata. Kapan tiba?
Begitu pula senandung serangga musim kemarau

Tanah lahirku pecah, beranakan amarah. Menyelingkuhi amanah
Walau amarah adalah jubah kebesaran Tuhan. Mereka ikut menyandang
Tuhan ... maafkan ...
Semoga bara di selendang ibu pertiwi lekas padam
 

Look & See

TERIMAKASIH

Selamat menikmati. Jangan ragu memberi komentar, karena dari cermin orang lain kita melihat hal yang selama ini tersembunyi menghalangi kita berdiri.

About

It's about US
semua tulisan di blog ini merupakan karya saya sendiri, Hendra Laksana Putra. Jika ada yang bukan dari saya, sebisa mungkin saya sertakan sumbernya. Mohon untuk di koreksi yaaaa . . . . Terimakasih. Don't forget to be happy . . . .