By Hendra Laksana Putra
Baru saja ku
mengintip keluar jendela. Ku tatap ia
Aku menyadari satu
fakta. Unik
Tak perlu kita
menunggu hujan badai
Menunggu lukisan
Tuhan yang beragam warna sampai di bola mata
Sejenak setelah badai
pun belum pasti warna – warna itu kan selalu tergores
Ia beri ku kejutan. Walau
bukan tentang cetakkan angka di kalender
Tanggal hanya sederet
aritmatika yang sedikit berguna, tetapi rasa ?
Seribu tanya tak akan
memberi jawab
Karena semua tentang kita, berawal dari pelangi malam
hari
Dan indah abadi esok hari
Pelangi – pelangi itu,
Lebih dari tujuh
warna ku tahu. Ku rasa begitu
Tak bisa ku beri nama
satu persatu
Bukan membilang pada
sederet diskrit
Ketika kontinyu,
hanya waktu sebagai penunjuknya
Warna – warna itu
suci sekali
Enggan tuk ku nodai
hingga ku diam sehening cerita waktu pagi
Kagumku kali ini
ketika ku lihat pelangi yang sejati
Sesungguhnya tiada ku
mampu tuk berkata
Hanya saja ingin
sekali ku ajak kau selalu bersama
Dengan apa lagi jika
bukan dengan untaian kata
Kata yang terus
membawa kita tuk selalu terbang
Melintasi beribu
pandangan, berjuta prasangka
Hingga sampai waktu
kan menghapus warna – warna
Dan waktu yang akan
mengembalikannya
@Mustek
8 April 2016
After Makrab TF-A

0 komentar:
Posting Komentar