By : Hendra Laksana Putra
Sumber gambar : ajisepta.blogspot.com
Tak mungkin ku dudukkan bersebelahan
Antara serpihan kerikil pinggir jalan
Dengan belahan gunung berlian tinggi menjulang
Mereka beda harga
Berbeda pancar
Walaupun mereka tetap batu
Saat mata ini melotot tajam ke arah dia yang tinggi
Benar – benar ku tahu seberapa ia sangat berharga
Seberapa diri ini teramat munafik
Serasa bahtera tanpa nahkoda. Kosong tanpa awak
Terombang – ambing samudera bergejolak membentur
idealisme
Kagumku padanya ketika ia mampu kibarkan merah putih di hadapan
barisan – barisan awan
Apalah aku? Hanya seorang yang berkutat dengan kerikil
kecil yang tak kunjung menyingkir
Barisanku jauh di belakang, tepatnya bersama para gelandangan
menelanjang
Diplomasi, negosiasi, politik, menggurui, memanipulasi
Bukanlah mainan genggaman kesepuluh jari saat ini
Jika ada ulat bulu menghampiri, aku hanya lari atau terbunuh
emosi
@MUSTEK, 13 April 2016
“Ketika dihadapanku
adalah orang yang sangat hebat dalam segalanya. Aku sangat kagum padanya”

0 komentar:
Posting Komentar